Menyelesaikan Masalah Tanpa Adu Mulut

Konflik muncul karena keunikan kita. Tujuan dari penyelesaian sebuah konflik bukanlah membuang semua perbedaan-perbedaan kita. Tujuannya adalah untuk belajar bekerja sama sebagai tim, menggunakan perbedaan untuk membuat hidup lebih baik untuk kita berdua.

Tetapi untuk beberapa pasangan, konflik mengarah pada argumentasi dan argumentasi seringkali menjadi lepas kendali. Bukannya cari solusi, justru mereka menciptakan masalah baru. Seorang isteri berkata pada saya, "Saya lakukan saja apapun yang dia inginkan karena saya capai berargumen." Jelas sekali, pendekatan seperti ini tidak akan membawa kepada suatu hubugan yang sebenarnya.

Sisi buruk dari berargumentasi
Apa keburukan dari argumentasi? Ketika Anda memenangi perselisihan, berarti pasangan Anda yang kalah. Dan kita tahu tidak enak tinggal dengan seseorang yang kalah.

Argumen menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Sayangnya, hasil tersebut merusak. Argumen adalah pernyataan yang disusun dengan hati-hati yang dirancang untuk memancing logika lawan. Implikasinya jelas, semua orang yang masuk akal akan setuju dengan argumennya. Pada saat pasangan tidak setuju, dia masuk dalam kategori tidak logis.

Argumen dengan cepat dapat disulut emosi. Anda mungkin akan berakhir dengan berteriak atau menjerit; menyemburkan kata-kata yang dapat membunuh karakter pasangan Anda; mempertanyakan motivasinya; dan menuduh perilakunya sebagai perilaku yang tidak sayang, jahat dan tidak disiplin.

Argumen terutama membawa kepada tiga hasil. Anda menang dan pasangan Anda kalah; Anda kalah dan pasangan Anda menang; atau Anda berargumentasi sampai seri. Sewaktu sebuah argumen berakhir seri, Anda dan pasangan sama-sama kalah. Tidak satupun yang berhasil diyakinkan mengenai posisi orang lain dan keduanya akan kecewa, frustasi, terluka, pahit dan seringkali kehilangan harapan akan pernikahan mereka.

Sisi baik penyelesaian konflik
Kabar baiknya adalah konflik dapat diselesaikan tanpa berargumen. Menemukan penyelesaian yang memenangkan kedua belah pihak dimulai dengan percaya bahwa solusi seperti itu memang memungkinkan dan bahwa Anda dan pasangan anda cukup pintar untuk menemukannya. Anda harus menghormati ide orang lain pada saat anda tidak setuju, dan bereaksi dengan penuh kasih kepada pasangan Anda walaupun kenyataannya Anda sedang konflik dengannya. Tujuannya adalah untuk mencari penyelesaian, bukan untuk memenangkan argumentasi.

Konflik tidak bisa diselesaikan tanpa mendengarkan dengan empati. Sayangnya, kebanyakan pasangan percaya mereka sedang mendengarkan satu sama lain, padahal mereka sedang memikirkan kata-kata apa yang ingin mereka "tembakan". Mendengarkan dengan empati berarti mencoba untuk mengerti apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Menempatkan diri kita di posisi orang lain dan mencoba melihat dunia melalui kacamatanya. Yang artinya kita letakkan senjata verbal kita untuk benar-benar mengerti sudut pandang orang lain. Bukannya berfokus pada bagaimana kita akan meresponi apa yang pasangan kita akan katakan, kita fokus pada sepenuhnya dengan mendengarkan apa yang orang lain katakan. Kita tidak akan bisa bereaksi dengan penuh kasih sampai kita mengerti arti dan perasaan di balik kata-kata.

Mendengarkan dengan empati mungkin butuh Anda menanyakan pertanyaan-pertanyaan untuk memastikan Anda mendengar dengan benar apa yang pasangan Anda katakan. Seorang suami mungkin bertanya, "Apakah kamu mengatakan kamu ingin aku untuk selalu membuang sampah tanpa disuruh?" di mana dia akan merespon, "Ya, pada saat aku harus menyuruh kamu, aku merasa seperti ibu kamu. Dan aku ingin kamu membuangnya setelah makan malam dan tidak membiarkannya sampai pagi jadi dapurnya tidak bau." Sekarang dia memahaminya, dia bisa menegaskan keinginannya dengan mengatakan, "aku mendengarkan apa yang kamu katakan dan itu masuk akal. Aku rasa aku bisa melakukannya. Satu-satunya masalah adalah setiap Rabu malam saat aku harus pergi terburu-buru untuk rapat. Apakah mungkin kamu yang membuangnya pada malam-malam tersebut?" Kemungkinannya adalah dia akan setuju dan " program pembuangan sampah" baru akan membawa keharmonisan pada hubungan mereka.

Pada saat Anda menegaskan perspektif pasangan Anda, maka Anda bisa membagi perspektif Anda dan bersama-sama Anda bisa menegosiasikan sebuah solusi yang menghargai ide dan perasaan Anda.

Kesalahan yang biasa terjadi
Kesalahan yang setiap pasangan biasanya lakukan pada saat mencoba menyelesaikan konflik bereaksi sebelum dia benar-benar mengerti gambaran dari permasalahan sepenuhnya. Hal ini pasti membawa kepada argumentasi. Pada saat kita bereaksi terlalu cepat, mereka seringkali bereaksi pada masalah yang salah. Mendengarkan membantu kita fokus pada jantung dari konflik tersebut. Pada saat kita mendengarkan, mengerti, dan menghormati ide masing-masing, kita bisa mencari solusi di mana kita berdua keluar sebagai pemenangnya. Pada saat suami isteri dengan penuh kasih mencari penyelesaian dari konflik mereka, mereka akan menemukan harmoni dan kerja sama.

By Gary D. Chapman | Sumber: christianitytoday.com

0 komentar:

recent comments


Cari di ezramos.blogspot.com...

recommended links

     » Christian Men's Network Indonesia
     » Wanita Bijak
     » Christian Parent
     » All About Parenting
     » Focus On The Family
     » Children’s Ministry Online
     » Jesus for Children
     » Salvation Kids
     » Kid Explorers
     » CBH (Children's Bible Hours)
» Blog ini didedikasikan untuk kedua anak yang kami kasihi, Ezra dan Amos serta kepada seluruh orangtua Kristen yang memiliki anak-anak agar mereka tetap memegang teguh komitmen dan tanggung jawab atas kehidupan anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. God bless you!

"Hai anakku, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita." (Ams. 23:15)

meet the parents

Add me Add me

  © 2008 Blogger template by Ourblogtemplates.com

Back to TOP